My Journal

[kliping] Anak saya kok tidak punya Impian?

Posted on: March 17, 2009

Dapet dari milis indoWLI.  Disclaimer: saya belum punya anak 😛

Dalam suatu rehat dalam acara training, seorang ibu
mendatangi saya untuk berkonsultasi ria. Dengan wajah penuh harap jawaban yang
terbaik beliau menanyakan tentang perilaku anaknya.

Ibu : Pak iwan, saya sedih melihat anak saya, padahal sudah SMA, tapi kok
sepertinya dia cuek banget yah terhadap masa depannya. Seperti gak punya impian gitu. Kalau ditanya nanti kalau sudah lulus mau jadi
apa, malah diam doang atau kalau jawab selalu bilangnya liat nanti saja. Pusing saya liat kelakuannya.

IK  : Hmm, ibu. Saya boleh tahu apa yang biasanya ibu lakukan supaya anak
ibu mau belajar?

Ibu : Itu dia pak, dia itu kalau gak diancam atau dimarahin gak mau belajar
pak. Pusing saya dibuatnya. Walau udah ditulis di kamarnya daftar hukuman kalau
tidak belajar, tetep ajaanak saya itu belum mau belajar kalau belum papanya
marah pak.

IK : Oh begitu. Maaf bu, seberapa sering ibu memberikan hadiah kalau anak ibu
rajin belajar?

sang ibu pun tiba-tiba terdiam mencoba mengingat-ingat.

Ibu : Terakhir saya memberi hadiah, ketika dia lulus SMP pak, saya ajak dia
jalan-jalan ke puncak. Senangnya bukan main. Tapi emang sih udah lama sekali

IK :  oh sepertinya saya mengerti bu mengapa anak ibu kurang bergairah
menatap masa depan. Dia cuma butuh perhatian dan reward saja kok

sebulan setelah kejadian itu, alhamdulillah saya mendapat kabar baik tentang anaknya tersebut.

***********

Sahabat, tanpa kita sadari, kita seringkali memberikan punishment terlalu
banyak kepada anak, bawahan, bahkan mitra kerja  kita. Mungkin kita menganggap hal tersebut
adalah hal yang biasa saja. Akan tetapi kalau kita coba renungkan sejenak,
bukankah  ketika hal tersebut dilakukan
berulang-ulang, secara subconscious sebenarnya kita telah memprogram sumber
motivasi (metaprogram) kepada mereka. Tepatnya metaprogram away from (menjauh).

Loh kok begitu?

Punishment sekali atau dua kali mungkin tidak jadi soal. Akan tetapi ketika punishment
sering  kita lakukan kepada seseorang berulang-ulang
maka tanpa disadari mind set mereka perlahan demi perlahan mulai terbentuk
bahwasanya kalau ingin bertindak/bekerja perlu adanya ancaman/punishment terlebih
dahulu. Kalau tidak ada ancaman berarti tidak bekerja.Waduh, kalau sudah
begini, hal yang awalnya kedengarannya simple dan sepele malah bisa menjadi
runyam kan?

Coba bagaimana ketika hal ini terjadi pada orang tua kepada
anaknya. Tanpa mereka sadari ternyata mereka telah memprogram anaknya supaya
anaknya menjadi penakut dan memiliki sumber motivasi menjauh. Bahanyanya
adalah, sang anak ini nantinya harus memerlukan sesuatu hal yang membuat dia
merasa terancam(butuh punishment), supaya dia mau maju. Kalau dia masih
merasa nyaman-nyaman saja dan tidak merasa terancam, alhasil dia merasa tidak
perlu untuk berkembang, toh tidak ada yang harus dijauhi. Mungkin inilah yang
terjadi pada diri sang anak yang ditanyakan ibunya kepada saya. Ketika sering
kali dia mendapatkan hukuman untuk belajar, malah menutup daya imajinasi sang
anak yang mengakibatkan seolah-olah hidup adalah menunggu perintah dan menunggu
datangnya ancaman.

Sebaliknya pada kasus yang berbeda, dimana pemberian pemacu, hadiah atau
iming-iming lainnya(reward) lebih diutamakan supaya mereka mau melakukan
tindakan, biasanya mereka yang seperti ini lebih berkembang daya imaginatif dan
kreasi nya. karena mereka selalu berusaha mencari cara supaya sang pemacu
tersebut berhasil didapatkan. Ketika hal ini terus berulang maka di dalam
mindset mereka lambat laun muncullah sumber motivasi/metaprogram mendekat (toward). Dimana Mereka berusaha untuk mendekati
sumber motivasi mereka. Akan tetapi mereka yang memiliki sumber motivasi toward
ini biasanya sedikit kebingungan ketika dia ada reward. Ketika tidak
reward mau tidak mau dia harus mencari sumber reward sendiri supaya
tetap maju.

Pemberian punishment saja atau pemberian reward saja tentu bukanlah suatu hal
yang bijaksana. Karena ketika seseorang terlalu away from nantinya mereka akan
kesulitan untuk maju dan menggapai impiannya. Sedangkan kalau terlalu toward
pun juga menjadi masalah, terlebih ketika kondisi tidak memungkinkan tidak ada
reward. Atau ketika berusaha menggapai reward tersebut yang akhirnya
tersibukkan dengan proses mencapai dan melupakan resiko-resiko yang ada.

Oleh karenanya, memang sebaiknya punishment dan reward
hendaklah diberikan secara seimbang. Selain nantinya seseorang bisa memiliki
motivasi yang menjauh dan mendekat yang seimbang, juga menjadikan punishment  dan reward tersebut sebagai pembanding mereka
untuk menjadi lebih baik.

semoga bermanfaat

salam berbagi

A.Setiawan

Mindset Programmer

Certified NLP
Int’l Master Pract

Advertisements

1 Response to "[kliping] Anak saya kok tidak punya Impian?"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: