My Journal

Archive for March 2009

sumber: http://web.bisnis.com/kolom/2id2058.html

Kunci sukses dimulai dengan inisiatif

oleh : Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency

“Success comes from taking the initiative and following up… persisting… eloquently expressing the depth of your love. What simple action could you take today to produce a new momentum toward success in your life?” Anthony Robbins

Sering kali kita mendengar kata inisiatif. Bahkan mungkin saja setiap dari kita sudah sering mendengarnya saat kita masih kecil atau saat kita mulai bersekolah. Ketika kita kuliah ataupun saat mengikuti kegiatan organisasi, hingga saat sekarang ini, di mana kita bekerja atau melakukan bisnis, kata ini kerapkali terdengar.

Orang-orang di sekitar kita pun sering mengatakan, “Kalau mau sukses dan berhasil, intinya mesti dimulai dari inisiatif!”. Bahkan seorang motivator kelas dunia seperti Anthony Robbins pun mengatakan bahwa kesuksesan itu datangnya dari inisiatif.

Saya pun teringat dengan sebuah cerita yang pernah diceritakan oleh teman saya. Alkisah ada seseorang yang bekerja kepada seorang bangsawan di Eropa. Suatu ketika, istri bangsawan itu memanggil seorang pekerjanya untuk diajak berbicara.

“Andrew, berapa lama Anda sudah tinggal dan bekerja bersama kami?”, tanya istri bangsawan itu.

“Kira-kira sekitar dua puluh lima tahun, Nyonya” jawab Andrew. “Oiya, saya ingat kalau engkau dipekerjakan untuk memelihara satu-satunya kuda perang waktu itu,” kata sang Nyonya.

“Benar sekali, Nyonya,” jawab Andrew.

“Andrew, kuda itu sudah mati sepuluh tahun yang lalu”, ujar sang Nyonya kepada Andrew. “Benar sekali, Nyonya.” Jawab Andrew. “Jadi, apakah yang harus saya lakukan sekarang?”, lanjutnya.

Hey! Jangan-jangan kita sama seperti Andrew.

Banyak orang tidak memiliki inisiatif dan menunggu selama bertahun-tahun agar orang lain memberitahukan kepadanya apa yang seharusnya dia lakukan, sehingga segala kesuksesan, keberhasilan, prestasi serta pencapaian-pencapaian yang harusnya telah kita raih tidaklah kita dapatkan dikarenakan kurangnya inisiatif dari kita.

4 Kategori pribadi berdasarkan inisiatifnya

Secara pribadi, saya ingin membagi empat kategori orang berdasarkan tingkatan inisiatifnya. Keempat kategori itu adalah:

Orang tipe pertama, orang-orang yang tidak pernah melakukan hal yang benar, tidak peduli apa pun yang dikatakan kepadanya. Orang yang termasuk dalam kategori pertama ini sering kali menjadi sumber masalah baik di dalam pekerjaan maupun dalam hubungan interaksinya.

Selain cuek, yang memperparah mereka adalah meskipun sudah diberitahukan hal yang benar, mereka tidak dapat mengerjakan sesuatunya dengan benar.

Namun, ini bukanlah sesuatu yang tidak bisa diperbaiki lagi.

Bahkan, kita tidak perlu ‘menyepak’ orangorang ini dari organisasi kita. Saya pun teringat pepatah dari novelis, Robert A. Heinlein yang pernah mengatakan, “A society that gets rid of all its troublemakers goes downhill.” Ya, organisasi yang mengeluarkan para troublemaker-nya, malahan akan terpuruk. Saat ini, di tempat di mana kita menjadi sang pemimpin, mungkin saja ada orang-orang yang masuk dalam kategori ini.

Langkah terbaik yang harus kita lakukan bukanlah secara langsung dengan menghindari orang tersebut, tetapi mulailah dengan mengajak orang tersebut dalam proses coaching atau counseling. Mungkin saja ada pengalamanpengalaman masa lalu yang menyebabkan dirinya menjadi seperti itu. Ketika bisa diperbaiki, orang ini bisa jadi justru menjadi aset yang berharga.

Orang tipe kedua, orang-orang yang melakukan hal benar setelah diberitahukan lebih dari satu kali. Dibandingkan dengan tipe pertama, maka orang yang masuk dalam kategori ini tentunya lebih baik.

Jika dalam tim terdapat orang seperti ini, hal yang perlu dilakukan adalah sedikit bersabar.

Mungkin juga sebagai pemimpin, kita tidak memberikan arahan yang cukup jelas. Janganlah langsung menyalahkan mereka.

Orang tipe ketiga, orang-orang yang melakukan hal yang benar saat diberitahukan sekali. Rata-rata sebagian besar orang-orang di dalam tim biasanya masuk dalam kategori ini. Orang dalam kategori ini merupakan kelompok terbesar, sehingga kelompok ini dapat disebut sebagai kelompok standar (rata-rata).

Jika saat ini Anda mau menjadi orang luar biasa, maka perlu bergerak dari kelompok ini menjadi pribadi yang masuk ke orang dalam kategori keempat.

Orang tipe keempat, orang-orang yang melakukan hal benar tanpa harus diberitahukan. Inilah yang dikategorikan sebagai orang yang memiliki inisiatif. Untuk belajar tentang inisiatif, saya jadi teringat pada masa kecil saya di mana saya suka sekali mengamati kegiatan yang dilakukan oleh semut.

Semut-semut, meskipun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya, atau penguasanya, mereka mengumpulkan makanan pada waktu musim panas. Setiap kali ada kesempatan, mereka selalu mengumpulkan makanan dan selalu bekerja sama dalam mengumpulkannya.

Semuanya tampak terjadi, tanpa ada yang mengomando. Nah, jika semut saja bisa, harusnya setiap kita pun mampu melakukannya.

Jadi, kita bisa simpulkan bahwa salah satu rahasia besar untuk menjadi seorang pribadi yang sukses dan berhasil, adalah kemauan untuk mengambil berbagai inisiatif. Untuk itu, janganlah memiliki sikap hanya menunggu bola datang menghampiri, tetapi yang harus dilakukan adalah menjemput bola kemudian cetaklah gol dalam kehidupan. Ini khususnya berlaku dalam bidangbidang sales ataupun bisnis kepada customer.

Namun, dalam banyak pembicaraan, saya sering menemukan sekali orang yang hanya terus menunggu datangnya kesempatan.

Mereka terus berharap akan adanya peluang yang datang menghampiri hidup mereka.

Tentunya sampai beberapa tahun pun mereka akan tetap didapati sebagai orang yang dalam posisi yang sama. Alihalih menunggu datangnya kesempatan dan peluang dalam hidup kita, lebih baik kita mempersiapkan hidup kita saat ini dengan terus mengasah skill dan kemampuan, membangun networking, dll.

Pastikan pada saatnya kesempatan itu datang, Anda sudah siap! Saya pun jadi teringat oleh sebuah pepatah yang pernah disampaikan oleh sahabat saya, “Janganlah berdoa supaya kesempatan datang, tetapi berdoalah supaya Anda siap saat kesempatan datang!” Mungkin Anda pernah mengalami saat-saat dimana kesempatan datang, tetapi Anda justru belum siap. Betapa sayangnya! Maka, mulai saat ini mari berjanjilah untuk menjadi pribadi yang berinisiatif serta mempersiapkan segala sesuatunya, sehingga saat peluang ada di depan mata, Anda dapat meraihnya sehingga mampu menggenggam sukses dan keberhasilan Anda

Advertisements

Dapet dari milis indoWLI.┬á Disclaimer: saya belum punya anak ­čśŤ

Dalam suatu rehat dalam acara training, seorang ibu
mendatangi saya untuk berkonsultasi ria. Dengan wajah penuh harap jawaban yang
terbaik beliau menanyakan tentang perilaku anaknya.

Ibu : Pak iwan, saya sedih melihat anak saya, padahal sudah SMA, tapi kok
sepertinya dia cuek banget yah terhadap masa depannya. Seperti gak punya impian gitu. Kalau ditanya nanti kalau sudah lulus mau jadi
apa, malah diam doang atau kalau jawab selalu bilangnya liat nanti saja. Pusing saya liat kelakuannya.

IK  : Hmm, ibu. Saya boleh tahu apa yang biasanya ibu lakukan supaya anak
ibu mau belajar?

Ibu : Itu dia pak, dia itu kalau gak diancam atau dimarahin gak mau belajar
pak. Pusing saya dibuatnya. Walau udah ditulis di kamarnya daftar hukuman kalau
tidak belajar, tetep ajaanak saya itu belum mau belajar kalau belum papanya
marah pak.

IK : Oh begitu. Maaf bu, seberapa sering ibu memberikan hadiah kalau anak ibu
rajin belajar?

sang ibu pun tiba-tiba terdiam mencoba mengingat-ingat.

Ibu : Terakhir saya memberi hadiah, ketika dia lulus SMP pak, saya ajak dia
jalan-jalan ke puncak. Senangnya bukan main. Tapi emang sih udah lama sekali

IK :  oh sepertinya saya mengerti bu mengapa anak ibu kurang bergairah
menatap masa depan. Dia cuma butuh perhatian dan reward saja kok

sebulan setelah kejadian itu, alhamdulillah saya mendapat kabar baik tentang anaknya tersebut.

***********

Sahabat, tanpa kita sadari, kita seringkali memberikan punishment terlalu
banyak kepada anak, bawahan, bahkan mitra kerja  kita. Mungkin kita menganggap hal tersebut
adalah hal yang biasa saja. Akan tetapi kalau kita coba renungkan sejenak,
bukankah  ketika hal tersebut dilakukan
berulang-ulang, secara subconscious sebenarnya kita telah memprogram sumber
motivasi (metaprogram) kepada mereka. Tepatnya metaprogram away from (menjauh).

Loh kok begitu?

Punishment sekali atau dua kali mungkin tidak jadi soal. Akan tetapi ketika punishment
sering  kita lakukan kepada seseorang berulang-ulang
maka tanpa disadari mind set mereka perlahan demi perlahan mulai terbentuk
bahwasanya kalau ingin bertindak/bekerja perlu adanya ancaman/punishment terlebih
dahulu. Kalau tidak ada ancaman berarti tidak bekerja.Waduh, kalau sudah
begini, hal yang awalnya kedengarannya simple dan sepele malah bisa menjadi
runyam kan?

Coba bagaimana ketika hal ini terjadi pada orang tua kepada
anaknya. Tanpa mereka sadari ternyata mereka telah memprogram anaknya supaya
anaknya menjadi penakut dan memiliki sumber motivasi menjauh. Bahanyanya
adalah, sang anak ini nantinya harus memerlukan sesuatu hal yang membuat dia
merasa terancam(butuh punishment), supaya dia mau maju. Kalau dia masih
merasa nyaman-nyaman saja dan tidak merasa terancam, alhasil dia merasa tidak
perlu untuk berkembang, toh tidak ada yang harus dijauhi. Mungkin inilah yang
terjadi pada diri sang anak yang ditanyakan ibunya kepada saya. Ketika sering
kali dia mendapatkan hukuman untuk belajar, malah menutup daya imajinasi sang
anak yang mengakibatkan seolah-olah hidup adalah menunggu perintah dan menunggu
datangnya ancaman.

Sebaliknya pada kasus yang berbeda, dimana pemberian pemacu, hadiah atau
iming-iming lainnya(reward) lebih diutamakan supaya mereka mau melakukan
tindakan, biasanya mereka yang seperti ini lebih berkembang daya imaginatif dan
kreasi nya. karena mereka selalu berusaha mencari cara supaya sang pemacu
tersebut berhasil didapatkan. Ketika hal ini terus berulang maka di dalam
mindset mereka lambat laun muncullah sumber motivasi/metaprogram mendekat (toward). Dimana Mereka berusaha untuk mendekati
sumber motivasi mereka. Akan tetapi mereka yang memiliki sumber motivasi toward
ini biasanya sedikit kebingungan ketika dia ada reward. Ketika tidak
reward mau tidak mau dia harus mencari sumber reward sendiri supaya
tetap maju.

Pemberian punishment saja atau pemberian reward saja tentu bukanlah suatu hal
yang bijaksana. Karena ketika seseorang terlalu away from nantinya mereka akan
kesulitan untuk maju dan menggapai impiannya. Sedangkan kalau terlalu toward
pun juga menjadi masalah, terlebih ketika kondisi tidak memungkinkan tidak ada
reward. Atau ketika berusaha menggapai reward tersebut yang akhirnya
tersibukkan dengan proses mencapai dan melupakan resiko-resiko yang ada.

Oleh karenanya, memang sebaiknya punishment dan reward
hendaklah diberikan secara seimbang. Selain nantinya seseorang bisa memiliki
motivasi yang menjauh dan mendekat yang seimbang, juga menjadikan punishment  dan reward tersebut sebagai pembanding mereka
untuk menjadi lebih baik.

semoga bermanfaat

salam berbagi

A.Setiawan

Mindset Programmer

Certified NLP
Int’l Master Pract