My Journal

Archive for February 2009

Ko-pas dari milis cfbe. Meskipun saya tidak 100% sepakat dengan poin2 di ulasan beliau (gara2 masih kurang ilmu kali ya :P), namun saya sangat sepakat dengan alasan beliau mengapa golput bukan pilihan masuk akal bagi umat Islam saat ini.

Demokrasi Haram? Golput Wajib? Dari Mana Ide Ini?

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Pada hari minggu kemarin, saya bertemu dengan Prof. Dr. Ali Mustafa
Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal dan Wakil Ketua Komisi Fatwa di
Majelis Ulama Indonesia.

Pada kesempatan itu, saya penasaran untuk bertanya tentang demokrasi
dan anjuran golput karena sudah berkali-kali ada orang yang berkomentar
di blog saya atau kirim email yang menyatakan bahwa demokrasi itu haram
hukumnya dan ummat Islam diwajibkan golput. Saya minta pendapat Dr. Ali
Mustafa karena saya ingin memahami perkara ini lebih dalam.

Berikut ini, saya akan coba menjelaskan kembali semua yang disampaikan Dr. Ali Mustafa dalam dialog kami pada malam itu.

Kesimpulan dari diskusi kami adalah: pendapat bahwa Islam bertentangan
dengan demokrasi sehingga haram untuk diikuti tidak ada landasan dalam
ajaran Islam.

Dr. Ali Mustafa juga berpendapat bahwa opini ini berasal dari
musuh-musuhnya Islam, termusuk kaum Zionis. Mereka sangat inginkan agar
ummat Islam tinggalkan demokrasi sehingga bisa dipecah-belahkan dan
menjadi lemah.

Dr. Ali Mustafa bertanya, “Apa yang akan terjadi di negara seperti
Indonesia kalau semua orang Muslim menjadi golput dan tinggalkan
demokrasi? Yang jelas, kita sangat mungkin mendapatkan Presiden dan
Wapres yang non-Muslim!” Dan mereka akan diakui oleh dunia sebagai
pemimpin yang sah karena mereka mendapatkan hak berkuasa lewat pemilu!
Kejadian seperti itu akan merupakan suatu kemenangan yang besar bagi
kaum non-Muslim, terutama missionaris yang ingin mengubah Indonesia
menjadi negara Kristen.

Kemudian, Dr. Ali Mustafa menjelaskan ada 3 kelompok orang yang mendukung sikap golput:

1. Skeptis: dia tidak yakin negara ini bisa diperbaiki jadi dia tidak mau terlibat dalam prosesnya

2. Kecewa: dia sudah merasa kegagalan “demokrasi” selama puluhan tahun
di Indonesia (di bawah Soeharto) dan karena itu dia tidak mau terlibat
lagi dengan pemerintahan manapun.

3. Ideologi (kelompok ini dipecah lagi):

a. Ideologi Islam

b. Ideologi Sekuler

Insya Allah 1 dan 2 sudah jelas.

Untuk 3A, yaitu Ideologi Islam, mereka anggap bahwa Indonesia harus
berubah menjadi negara Islam yang berdasarkan hukum syariah saja.
Karena tidak demikian pada saat ini, maka dianggap demokrasi haram dan
ummat Islam harus golput.

Menurut Dr Ali Mustafa, kalau kita ikuti anjuran orang ini, maka orang
kafir bisa menjadi kaum yang paling berkuasa di sini, dan ummat Islam
harus nurut dengan hukum yang mereka buat. Pendapat ini bahwa demokrasi
haram untuk orang Muslim berasal dari “aktor intelektual” dan mungkin
juga dari kaum Zionis, katanya. Mereka inginkan agar ummat Islam
menjadi lemah, dipecah-belahkan, dan kaum non-Muslim bisa berkuasa di
atasnya.

Untuk pendapat 3B, yaitu Ideologi Sekuler, mereka anggap bahwa tidak
ada kandidat yang 100% sekuler, jadi karena itu mereka memilih untuk
tidak dukung semua. Mereka merasa bahwa Indonesia sudah terlalu
islamiah, dan mereka inginkan negara yang 100% sekuler seperti negara
barat, dan tidak boleh lagi ada hukum syariah di Aceh, Perda Syariah,
UU Zakat, UU Pernikahan (yang islamiah), UU Wakaf, obligasi syariah (di
bidang keuangan), UU Syariah Banking, dan sebagainya. Mereka anggap
bahwa hukum-hukum seperti ini melanggar asas sekuler negara yang mereka
harapkan, dan selama tidak bisa dihapus, mereka tidak anggap Indonesia
sebagai negara sekluer yang sesungguhnya, dan karena itu demokrasi di
sini harus ditinggalkan, alias mereka mau golput. Tidak ada kandidat
yang layak dipilih karena tidak ada kandidat yang janji untuk menghapus
semua UU tersebut dan mengubah Indonesia menjadi negara sekuler yang
bersih dari UU yang islamiah.

Saya bertanya lebih dalam tentang pendapat 3A, yaitu Ideologi Islam.
Saya ingin lebih paham kenapa ada begitu banyak orang Muslim yang
anti-demokrasi. Dr. Ali Mustafa menjelaskan, ada 4 jenis hukum di dalam
Islam:

1. Ibadah (shalat, haji, dll.)

2. Muamalah (kegiatan yang dilakukan antara manusia, jual-beli, sewa-menyewa, dll.)

3. Munakahat (hukum perkawinan, warisan, wakaf, dll.)

4. Jinayah (hukum kriminal, atau hukum syariah)

Dari 4 jenis hukum ini, 3 yang pertama sudah diaplikasi di dalam negara
Indonesia. Jadi, sebenarnya, Indonesia sudah 75% menjadi negara Islam.
Hanya yang ke-4 yang belum diaplikasi secara mutlak. Lalu, Dr. Ali
Mustafa menjelaskan bahwa apa yang kita pahami sebagai demokrasi
(rakyat bisa memilih pemimpin sendiri) tidak masuk ke bagian Ibadah.
Sedangkan dalam hukum fiqih, kita wajib mengikuti contoh dari
Rasulullah SAW dalam urusan Ibadah karena yang lain dari contoh Nabi
SAW adalah haram. Sedangkan dalam semua urusan yang lain, apa yang kita
kerjakan berstatus halal, selama tidak ada alasan yang jelas untuk
membuatnya haram.

Urusan dunia diserahkan kepada kita untuk memutuskan lewat musyawarah
(saling berdiskusi dan berkonsultasi). Kalau ada suatu contoh atau
tindakan dari Nabi SAW, yang bukan ibadah, kita boleh aplikasikan dan
juga boleh membentuk cara yang baru. Untuk semua urusan baru itu,
selama tidak berhubungan dengan ibadah, dan tidak ada alasan untuk
mengharamkan, maka kita bebas membentuk tindakan dan cara kerja yang
baru yang sesuai dengan kebutuhan kita di dunia ini.

Saya bertanya tentang system Khilafa yang ada di zaman Nabi SAW dan
bertanya apakah kita wajib menerapkan sistem yang sama karena kita akan
berdosa kalau tidak “mengikuti Nabi SAW”. Dr. Ali Mustafa menjelaskan
bahwa kita tidak wajib menggunakan sistem yang sama (artinya, boleh
dipakai dan tidak dilarang, tetapi juga tidak wajib bagi kita) karena
hal ini bukan termasuk urusan hukum ibadah. Oleh karena itu, Nabi SAW
sendiri memberikan izin kepada ummatnya untuk mengatur urusan dunia
dengan ilmu yang kita miliki, tanpa membatasi kreativitas kita untuk
menciptakan sistem dan cara kerja yang baru.

Tetapi kalau ada orang yang hanya inginkan Khilafa, dan karena belum
bisa mendapatkannya dia golput saja dulu, maka, menurut Dr. Ali Mustafa
Yaqub, hal itu berarti dia justru “membantu” musuh-musuh Islam dalam
keinginan mereka untuk berkuasa di atas ummat Islam. Kita boleh saja
membahas sistem khilafa kalau kita semua menginginkannya, tetapi tidak
jelas bagaimana kita bisa pindah dari sistem demokrasi yang sudah
mengakar pada sistem khilafa. Dan apa yang akan dilakukan kepada semua
warga negara non-Muslim yang tiba-tiba dipaksakan terima sistem khilafa
padahal mereka inginkan demokrasi terus? Kalau hal seperti itu terjadi,
mungkin akan ada perang sipil di sini, dengan orang non-Muslim dibantu
oleh negara-negara barat untuk mengembalikan demokrasi di sini. Jadi,
yang akan dihasilkan malah perang sipil (barangkali) bukan kejayaan
bagi ummat Islam dan bangsa Indonesia.

Kata Dr. Ali Mustafa, di zaman Nabi SAW, wilayah kekuasaan Nabi SAW
disebut “Jazirah Arab” sebagai nama suatu wilayah spesifik, dan itu
tidak berbeda dengan wilayah yang bernama “Indonesia”. Jadi, kekuasaan
kita di dalam wilayah Indonesia tidak berbeda dengan kekuasaan Nabi SAW
di dalam Jazirah Arab. Oleh karena itu, di dalam wilayah Indonesia ini,
kita bisa menerapkan sistem pemerintahan mana saja yang kita inginkan.
Dan kalau rakyat mendukung demokrasi, dan bangsa bisa maju dan diterima
oleh semua negara lain, maka tidak ada alasan untuk mengharamkan
demokrasi. Dan karena itu, tidak ada alasan untuk memilih golput. Kalau
kita masih mau golput saja, tanpa berfikir tentang dampaknya, jangan
heran kalau pada akhir tahun ini Presiden, Wapres dan semua Menteri
adalah orang non-Muslim!

Semoga informasi ini bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

Kalau mau berbeda pendapat, silahkan.

Mohon maaf bila ada kesalahan atau kekurangan.

Wallahu a’lam bish-shawab,

Wa billahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

Ko-pas dari portal its.ac.id (http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=2268),

Penulis: Nizar Ihromi Hidayat

Masihkan Anak Bangsa ini tahu akan Pahlawannya ?
14 November 2005 08:29:29

Suatu sore seorang anak kecil itu
ribut, nangis, teriak, dan segala tetek bengeknya itu hanya sekedar
untuk meminta mamanya untuk menonton film seri SpongeBob di salah satu
station TV swasta. “Ma, minta beli in Boneka itu ”
Si anak kecil itu pun merengek-rengek meminta ibunya untuk membelikan
boneka Patrick untuk melengkapi koleksi bonekanya, meskipun di kamar
sudah ada boneka Spongebob, Mr Krabb, si siput Garry dll. Ironis sekali
jika sekarang malah cerita kartun tentang sponge bob, sinchan ,
doraemon,dll yang menjadi tontonan setia anak anak bangsa ini.

kampus ITS, ITS Online – Akankah nantinya bangsa ini
akan teringat akan kisah-kisah SpongeBob-Patrick dan melupakan
kisah-kisah perjuangan Bung Tomo dalam mempertahankan Surabaya dari
serbuan penjajah Inggris. Akahkah kita ingat ketika suara takbir pun
menggema. Ratusan bahkan ribuan nyawa melayang. Kepulan asap dan
kucuran darah menjadi pemandangan biasa. Surabaya berkobar, sejarah
mencatatnya. Dan arek-arek Suroboyo pun berhadapan secara frontal
dengan tentara Inggris dan sekutunya. Tentara Inggris kehilangan dua
perwira tingginya, Mallaby dan Mansergh. Sebuah kisah heroik yang
mengesankan. Itulah pertempuran 10 November yang dijadikan hari besar
bagi bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan.

Hikayat Prang Sabi

Hikayat Prang Sabi adalah salah satu inspirator besar dalam menentukan
perjuangan rakyat Aceh. Memang sejak dulu bangsa Aceh sangat akrab
dengan syair-syair perjuangan Islam, sajak-sajak akan sebuah hakikat
keadilan. Hikayat ini selalu diperdengarkan ke setiap telinga anak-anak
aceh, laki-laki, perempuan, tua muda, besar kecil.

Read the rest of this entry »

Cool ^_^
Sigit Agus Himawan, Insinyur Kelautan yang Menjadi Bos Sampah

Kenali Tabiat Sampah, Jadi Pemulung Satu Tahun

Tidak banyak orang yang rela berlama-lama berdekatan dengan sampah. Namun, Sigit Agus Himawan justru bersahabat dengannya. Insinyur Kelautan itu rela melepas jabatan empuk demi barang buangan itu. Hasilnya tak mengecewakan; tiga pabrik kini jadi miliknya

JANESTI PRIYANDINI, Surabaya

Rasa lelah tidak tergambar di wajah Sigit Agus Himawan. Padahal, pria berkumis kelahiran Banyuwangi itu baru saja tiba dari Jakarta. Ditemani secangkir teh, dia mulai menceritakan kisahnya bergelut dan akhirnya menggantungkan mata pencaharian pada sampah. Dilihat dari latar belakang pendidikan, bapak tiga anak itu bukan dari disiplin ilmu yang terkait dengan sampah. Dia lulusan Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Seperti kebanyakan, setelah lulus kuliah pada 1990, Sigit pun mencari pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang dipelajari. Setelah melamar sana-sini, akhirnya dia diterima sebagai karyawan di sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta. Profesi yang digeluti mengantarkannya untuk mengunjungi negara lain

Saat melihat home industry di Tiongkok, timbul keinginan Sigit untuk berbinis. ”Tiba-tiba saya merasa bosan jadi pegawai,” tambahnya. Dengan memiliki usaha sendiri, tentu prospek ke depan lebih terjamin. Begitu pikirnya. Padahal, posisinya ketika itu sudah cukup mapan. Gaji yang diterima juga cukup besar, Rp 6,5 juta per bulan. Jumlah cukup besar di awal 1990-an

Tapi, tekadnya tidak bisa diubah. Dia ingin berbisnis sendiri. Maka, dia keluar dari perusahaan itu dan memilih tinggal di Pacet, Mojokerto. Sebuah perubahan drastis memang. Sejak itu praktis dia tidak memiliki pekerjaan tetap. Bahkan, dia harus menjual karbol (pembersih lantai) buatannya untuk sekadar mencari uang untuk makan keluarga. Dia juga melirik kotoran sapi sebagai objek penelitian. Di sekitar rumahnya banyak kotoran sapi. ”Dari lulur mandi, karbol, sampai kotoran saya jual. Gimana lagi, wong sudah tidak punya pekerjaan,” kisahnya.

Sigit lalu memanfaatkan kotoran tersebut sebagai pupuk. Dari situ dia mulai terpikir untuk melakukan hal serupa terhadap sampah. Kalau sampah dijadikan penyubur tanah, prospeknya pasti bagus, begitu pikirnya. Apalagi, tidak banyak orang yang mau bermain di lahan itu. ”Nyium baunya aja orang sudah malas,” ucapnya lantas tertawa.

Bisnis pupuk mengantarkan Sigit pada pemahaman terhadap ilmu pertanian. Sigit mengamati, hasil panen yang berupa sayuran atau buah yang tak terpakai akan dibuang sebagai sampah. ”Nah, setelah jadi sampah tidak ada yang memanfaatkan. Jadinya sampah tambah menumpuk, kualitas lahan semakin menurun,” jelasnya.

Sigit melihat ada missing link. Sebenarnya sampah jenis organis tersebut bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas lahan itu. Jaringan yang hilang itulah yang ingin disambungnya supaya menjadi sebuah siklus yang saling berkesinambungan. Demi keinginannya itu, pada 2000 suami Siswayati tersebut nekat pergi ke Bekasi. Yang dia tuju adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Alasannya pergi ke tempat itu adalah untuk mempelajari karakter sampah, manajemen sampah, sampai kultur masyarakat pemulung di sana. ”Kalau mau menjadi sahabat sampah, kita harus bicara dulu dengannya. Pendekatan,” ucapnya filosofis.

”Pendekatan” yang dipilih Sigit adalah ikut menjadi pasukan ninja. Menjadi pemulung bersama penduduk lain. Selama satu tahun dia melakoni pendekatan itu. Dia pun tinggal di sekitar TPA, membangun rumah seadanya dari papan. ”Pokoknya bisa untuk tidur,” ucapnya. Cukup ekstrem memang.

Sigit sendiri menyebut dirinya orang yang berani. ”Berani miskin,” tegasnya. Gara-gara aksi nekatnya itu, dia sering disebut wong gendeng oleh saudaranya. Setiap hari, mulai pukul enam pagi dia sudah berada di TPA. Tak ketinggalan topi ninja melekat di kepalanya. Seharian penuh dia berada di tempat itu bersama pemulung lain.

Jika teman-temannya mengambil sampah plastik, dia justru mengambil sampah organik. Sampah itulah yang tidak diambil oleh pemulung lain. ”Penghasilan mereka kan dari sampah plastik itu,” tutur bungsu dari sembilan bersaudara tersebut.

Dari Bantar Gebang, Sigit mendapatkan sebuah ide untuk berinovasi. Dia ingin membuat kompos berbentuk granular supaya tidak tertiup angin dan tidak terbawa air. Sebab, jika berbentuk serbuk, kemungkinan tersebut akan terjadi.

Berbekal ide dan modal lima juta rupiah dia pindah ke Bandung. Di sana dia mulai melakukan penelitian tahap selanjutnya. Dia menyewa mesin granulasi dari sebuah pabrik kapur pertanian. ”Perhitungan sewanya berdasarkan jumlah sampah yang saya pakai. Per kilo bayar berapa, gitu,” kata juara pertama lomba form riset dan teknologi industri se-Indonesia ini.

Pupuk buatannya itu kemudian diujikan. Uji tanam itu, selain dilakukan di Bandung, juga dilakukan di Mojokerto, sambil pulang kampung. Begitu terus sampai akhirnya dia mendapatkan formulasi yang pas. Setelah mencoba beberapa kali, ternyata tanggapannya bagus. Mereka tidak perlu menggunakan pupuk dalam jumlah banyak, namun hasil panen meningkat. Lama-lama pupuknya tersebut mulai dikenal. Oleh seorang teman dia diberi modal untuk menyewa pabrik di Purwakarta. Itu adalah pabrik pertamanya. ”Dulu pabrik teh tapi sudah tidak terpakai, saya sewa,” lanjutnya.

Usaha Sigit terus mekar. Di bawah bendera PT Komposindo Granular Arendi, kompos ciptaannya telah diproduksi di tiga pabrik. Tepatnya di Karawang, Sragen, dan Jember. Karyawannya mencapai 150 orang tiap pabrik. ”Saya menjabat direktur teknik sekaligus pemegang saham di situ (PT Komposindo Granular Arendi, Red) ,” ungkapnya.

Dalam mengelola pabriknya tersebut, Sigit bekerja sama dengan pemda setempat. Kerja sama itu tentu saja masih berkaitan dengan sampah. Bahan baku utama untuk membuat kompos adalah sampah yang dia ambil dari tempat pembuangan akhir (TPA) di tiga kota itu. ”Tapi, mereka (pemerintah, Red) tidak keluar duit. Semua investasi dari kami,” jelasnya.

Pada 2005 dia mendapat izin pemasaran dari Departemen Pertanian. Daerah pasarnya pun menjadi semakin luas. Setelah merasa teknologi buatannya sudah oke, akhirnya Sigit mulai mencari investor. Hasilnya, sekarang sudah berdiri tiga pabrik. Ada 42 distributor se-Indonesia yang membantu pemasarannya. Pupuk kompos granulasi organik yang dinamai Rabog itu dipasarkan hingga ke Riau. Bulan depan dia berencana ekspansi di Bondowoso. Target lain, dia akan membangun pabrik di Mataram. ”Targetnya sih tahun ini,” katanya.

Sampai sekarang kadang dia masih merasa tidak percaya dengan apa yang telah dilakukannya. ”Jujur saja, saya jadi insinyur karena dipaksa orang tua. Cita-cita saya sebenarnya ingin jadi pemusik,” ungkapnya merendah. (*/kim)