My Journal

Archive for February 2008

Artikel ini dikutip dari milis..

— — — — — — — — — —

“NDESO”

Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan,
udik, sock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau
merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa
takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak
ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap
hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan
mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak
orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang
yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap
langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa,
seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus
berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta
belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau
bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si
Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana.
Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah
Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik
kendaraan umum, sementara yang akan di jemput, pejabat Indonesia naik
mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni
dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri,
saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai Merk Holden baru
yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para
pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan
tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia
seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3,
sekarang lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak serorang pengusaha
yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi
pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp komunikator,
mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca Koran ternyata
konsumen terbesar hp komunikator adalah Indonesia. Sempat berkenalan
juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata
dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta. Yang tak
kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di
pakai masyarakat jepang ternyata tak bermerk, wah ini yang deso siapa
yaa?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di jepang atau di
Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau
rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu
pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan orang jepang
diajak ke Pondok Indah bisa Pingsan melihat rumah segitu gede dan
mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa
dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun
banyak yang lesehan.

Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana Negara dan
Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang
ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemawahan istana
raja-raja Negara sekelilingnya, karena Beliau punya pengalaman
berdagang. Ternyata Beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah
ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan?
Mengingat beliau sebagai kepala Negara. Jawabannya ya di masjid.

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di
mekkah nikah dengan janda kaya, di madinah jadi kepala Negara, punya
hak prerogative dalam mengatur harta rampasan perang, dan ada jatah
dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari
raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan
batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan
perih perut dan seterusnya.

Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang lagi numpuk, rakyat banyak
yang mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak
tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat
dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak
ceremonial yang gonta-ganti bajuseragam, baju dinas, merek mobil,
proyek mercusuar, dll, dsb, dst

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan
tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagiwanita
tidak solat (WTS) , angka criminal rendah, korupsi berkurang,
punyaposisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias
norak) tidak mampu mengatasi kerisis karena tidak bisa menjadikan
krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah karenayang
menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai
adalahNegara normal atau bahkan mengikut Negara maju. Bayangkan ada
daerah yang menganggarkan Sepak Bola 17 Milyar sementara anggaran
kesranya 100 juta,wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari
atas sampai bawah:
-Orang bisa antri raskin sambil pegang hp
-Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
-Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli tv dan kulkas
-Orang kampung mabok patungan Orang bule mabuk kelebihan uang
-Lagi mabok muntah keluar kangkung, genjer toge
-Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
-Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
-Orang mo beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
-Ijzah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di
cibubur
-Kelihatannya orang sibuk ternyata masih intensive keluar masuk Mc
Donald
-Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia
persepakbolaan. Jadi masih sempat ngurusin kulit bulat diisi angin
-Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp
-62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
-Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara
tembang kenangan.
-Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
-Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
-Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
-Agar kelihatan inklusif maka harus bisa menggandeng siapa saja, kalo
perlu jin tomang bisa digandeng

Yang lebih mengerikan adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka
harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu
dirinya kere. (*)

Tulisan ini dibuat oleh: Abdulllah Muadz (dari milis tetangga)

Apa hubungannya coba?

http://www.jalansutra.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=202&Itemid=42

Lain kali, klo sakit kepala, bisa dicoba tuh, semur daging bodrex.. he he he..
Tidak hanya menghilangkan sakit kepala, tapi juga mengenyangkan dan kaya protein 😛

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/gaul/wahyu-aditya-giatkan-animasi-sebagai-industri-3.html

Jadi pingin sekolah lagi nih 😀
PeDe bgt yak, minjem duit segitu gede.. 400jt…
emang asli enterpreneur ..

“Bukan, penyebabnya bukan karena kepalanya tidak ada isi ..
Tapi karena kepalanya penuh berisi sampah..”
-kutipan .. lupa darimana-

Klo kinerja mandek, ide-ide ga ada yg muncul ..
Ada yg tahu cara membersihkan isi kepala dari hal-hal tak bermanfaat?