My Journal

test content posting from wordpress sidebar addons

Hafalan buat sabtu besok  ^_____^

Bismillah..

Hal fahimtum?

Apakah kalian sudah faham?

Na’am, fahimna

Ya, kami faham

Maa fahimna

Kami tidak faham

Maa ma’na … ?

Apa arti … ?

Haadza bima’na …

Ini berarti …

Anaa sa aqraulakum

Saya akan bacakan kepada kalian

Wa antum tasma’uuna jayyid

Dan kalian dengarkan baik-baik

Istami’ tsumma karrir!

Dengarkanlah lalu ulangi

A ‘id karrir marratan tsaaniyah

Ulangilah sekali lagi

dikutip utuh-utuh dari http://www.tompeters.com/blogs/freestuff/uploads/100Ways_1-50.pdf

100 WAYS TO SUCCEED #7:
IF NO “WOW,” NO GO!
Does “it” Pop?
Does “it” Sparkle?
Does “it” make you Grin?
Is “it” … WOW?
If “it” (grand or mundane) isnʼt WOW … re-do it! Or donʼt do it!
This is … Your Day.
Not “their” day.
This Day belongs … ULTIMATELY … to You.
Not “them.”
Cubicle slaves Unite!
Technicolor Titans rejoice!
Throw off the shackles of Conformity!
Just say/shout a throaty “No!” to Non-WOW!
So …
WOW!
Now!
(No bull. This is do-able.)

penting –  ga penting..

Almamater s1 saya, sesuai dengan tanggal lahir ibu saya..
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Maka setiap tahunnya pihak kampus hampir pasti mengadakan perhelatan untuk memperingati tanggal kelahiran ibu saya tersebut..
Tentunya saya ndak bakal memaksakan anak saya untuk kuliah di Universitas Sebelas Maret.. he he..

Salah satu keponakan saya dilahirkan pada tanggal sebelas maret, tahun 2007. Sama dengan ulang tahun saya. Pada saat itu direksi PT. Garuda Indonesia adalah Emirsyah Satar.
Per Januari 2009 resmi kantor tempat saya bekerja menjadi anak perusahaan Garuda Indonesia, sebelumnya berbentuk joint venture antara GA dan LHSystems. Nama keponakan saya, Emir Gibran Fadli.

Bermohonlah kepada Dzat pemilik alam semesta. Rabb Ar-Rahmaan Ar-Rahiim..

Dzat yang segala perubahan bit di segala media simpan data digital yg pernah dan akan terjadi di muka bumi ini adalah atas pengetahuan dan izin-Nya
Dzat yang segala transfer bit antar segala media simpan data digital yg pernah
dan akan terjadi di muka bumi ini adalah atas pengetahuan dan izin-Nya
Dzat yang segala akses data yg pernah
dan akan terjadi di muka bumi ini adalah atas pengetahuan dan izin-Nya
Dzat yang segala transaksi ekonomi yg pernah dan akan terjadi di muka bumi ini adalah atas pengetahuan dan izin-Nya
Dzat yang segala replikasi tiap sel tubuh yg pernah dan akan terjadi di muka bumi ini adalah atas pengetahuan dan izin-Nya

Dzat yang segala kematian tiap sel tubuh yg pernah dan akan terjadi di muka bumi ini adalah atas pengetahuan dan izin-Nya
Dzat yang segala bentuk kontraksi otot tubuh yg pernah dan akan terjadi di muka bumi ini adalah atas pengetahuan dan izin-Nya
Dzat yang segala bentuk percikan pikiran yg pernah dan akan terjadi di muka bumi ini adalah atas pengetahuan dan izin-Nya

Dzat yang berkuasa atas segala hal yg pernah dan akan terjadi di semesta alam..
masa’ masih ga yakin juga sih..😉

“kurang flexible, kurang fokus dan terlalu kurus” kata Mujoko. [Friday, May 15 2009 10:22 AM]

Lanjutan dari posting sebelumnya

*Dengue Tak Selalu DBD*

PENYAKIT demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi momok tiap tahun. Dalam
kurun waktu lima tahun terakhir, penyakit ini berendemi cukup luas di hampir
seluruh daerah di Indonesia, khususnya di perkotaan.

Demam berdarah yang berkembang pesat di daerah tropis bisa menyerang siapa
saja.Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun bisa menjadi korban. Data
Departemen Kesehatan menunjukkan, selama lima tahun terakhir, rata-rata tiap
tahun 61 ribu orang menjadi korban dan 800 orang di antaranya meninggal
dunia.

Dari jumlah kasus tersebut, sebanyak 17,73 persen dari jumlah kasus yang ada
adalah usia balita. Data terakhir yang cukup memprihatinkan diperoleh dari
Dinas Kesehatan DKI Jakarta, yang menyebutkan hingga April 2007, jumlah
pasien demam berdarah sejak Januari 2007 mencapai 11.094 dengan angka
kematian 42 orang. Meningkat cukup signifikan dibandingkan data Januari 2007
yang mencapai 2.459 pasien, dengan korban kematian delapan orang.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang Jakarta (IDAI Jaya) dr Badriul
Hegar SpA(K) mengatakan, demam merupakan gejala klinis yang sering membuat
orangtua cemas dan menginginkan keluhan terebut diatasi segera. Namun, tata
laksana demam pada anak tidak sama seperti orang dewasa. Karena itu,
diperlukan pemahaman penanganan demam tidak saja oleh para tenaga medis,
juga oleh orangtua.

Dia juga mengungkapkan keprihatinan dengan banyaknya kasus DBD di wilayah
DKI Jakarta hingga merenggut nyawa beberapa anak. Kasus demam berdarah
dengue tampaknya merupakan kasus yang dapat ditemui sepanjang tahun, dengan
manifestasi klinis yang tidak spesifik.

“Di satu pihak, kami tidak ingin terlambat memberikan pengobatan. Namun, di
lain pihak, kami juga tidak boleh memberikan tata laksana yang berlebihan.
Karena itu, diperlukan pemahaman dan kewaspadaan dalam menghadapi
kasus-kasus yang dicurigai demam berdarah,” ujar Badriul dalam pertemuan
ilmiah dengan topik “Tata Laksana Demam dan Demam Berdarah Dengue pada
Anak”.

Sementara itu, dr H Hindra Irawan SpA (K) MTrop Paed dari Departemen Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengungkapkan, infeksi
virus dengue tidak selalu menyebabkan demam berdarah dengue. Bisa saja,
akibat dari infeksi virus tersebut hanya demam dengue. Sebab itu, perlu
dipahami perbedaan dari demam dengue dan demam berdarah dengue. Apa saja
perbedaannya?

Gejala yang dialami anak dengan demam dengue relatif lebih ringan
dibandingkan demam berdarah dengue. Meskipun anak terlihat kemerahan dan
lemas, tidak sampai terjadi pendarahan. “Sementara, jika sudah terjangkit
demam berdarah dengue, biasanya telah terjadi kebocoran pembuluh darah. Hal
ini dapat menyebabkan anak shock,” ujar Hindra.

Biasanya*, fase kritis untuk demam berdarah dengue dialami anak pada hari
keempat hingga kelima, dengan tubuh dingin. Padahal, pada hari pertama
hingga ketiga, anak mengalami demam tinggi. Pada fase kritis tersebut,
biasanya anak juga tidak mau bangun, tidur terus, tidak mau makan, serta
kaki dan tangan dingin disertai sakit perut.
*
“Jika gejala tersebut dialami anak, harus diwaspadai anak menderita demam
berdarah dengue,” papar Hindra, yang meraih gelar Master of Tropical
Paediatrics di University Liverpool, Inggris. Jika anak terbukti terjangkit
demam berdarah, yang harus dihindari ialah shock yang tidak teratasi dalam
satu jam, shock berulang, shock dengan pendarahan hebat, dan shock dengan
penyulit, seperti gagal napas, gagal jantung, gagal ginjal, kejang. Apabila
keadaan tersebut ditemukan pada anak, anak harus segera ditangani di ruang
intensive care unit (ICU).

*Langkah Tepat Tangani Demam*

Orangtua biasanya langsung memberikan obat penurun panas begitu anak mereka
demam. Ternyata cara ini tak selamanya diperlukan sepanjang suhu tubuh anak
tidak lebih dari 38ŗ Celsius dan anak masih terlihat ceria.

*Mengingat, demam diperlukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh saat terjadi
infeksi. Pemberian **obat** penurun panas terlalu sering justru
dikhawatirkan bisa berdampak negatif. Menurut dr Alan Tumbelaka SpA(K),
salah satu jenis obat yang cukup lama digunakan dan relatif aman ialah
parasetamol.* Sementara, penggunaan beberapa obat antidemam lainnya, yakni
golongan asam asetilsalisilat (ASA) dan ibuprofen, perlu mendapat perhatian,
terutama pada keadaan tertentu.

“Pada dasarnya, penggunaan antidemam atau antipiretik pada anak harus
memperhatikan indikasi, kontraindikasi, dan toksisitas,” tandas Alan.
Sementara itu, Dr H Hindra Irawan SpA(K) MTrop Paed menegaskan, saat wabah
demam dengue, apabila anak menderita demam selama tiga hari berturut-turut
dengan suhu mendadak tinggi, nyeri otot, mata kemerahan, badan lemas,
diikuti gejala nyeri di ulu hati, anak harus diperiksakan ke dokter. Selain
itu, melakukan pemeriksaan darah untuk memastikan infeksi dengue atau bukan.

“Bila diperlukan obat antidemam, parasetamol cukup aman diberikan untuk
demam dengue. *Hal ini harus diikuti dengan asupan cairan yang cukup*, yaitu
oralit, jus buah, susu, dan lain-lainnya,” tegas pria kelahiran Tokyo,10
Juni 1954,tersebut.

Sebuah riset independen terkini mengungkapkan bahwa konsumsi antidemam yang
mengandung asam asetilsalisila pada anak di wilayah perkotaan di Indonesia
masih cukup tinggi. WHO menyebutkan bahwa parasetamol merupakan
obatantidemam yang relatif aman digunakan pada demam dengue.

Sementara, asam asetilsalisilat atau obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID)
tidak dilanjutkan pada demam dengue. Menurut Hindra, *parasetamol dapat
diberikan kepada anak pada fase demam sebanyak 10 mg/kg/dosis selang empat
jam. Sementara itu, ibuprofen tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan
jumlah trombosit menurun dan merangsang lambung. *
(ririn sjafriani/SINDO/mbs)