Posted by: semeru2007 on: February 20, 2009
Ko-pas dari portal its.ac.id (http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=2268),
Penulis: Nizar Ihromi Hidayat
Masihkan Anak Bangsa ini tahu akan Pahlawannya ?
14 November 2005 08:29:29
Suatu sore seorang anak kecil itu
ribut, nangis, teriak, dan segala tetek bengeknya itu hanya sekedar
untuk meminta mamanya untuk menonton film seri SpongeBob di salah satu
station TV swasta. “Ma, minta beli in Boneka itu “
Si anak kecil itu pun merengek-rengek meminta ibunya untuk membelikan
boneka Patrick untuk melengkapi koleksi bonekanya, meskipun di kamar
sudah ada boneka Spongebob, Mr Krabb, si siput Garry dll. Ironis sekali
jika sekarang malah cerita kartun tentang sponge bob, sinchan ,
doraemon,dll yang menjadi tontonan setia anak anak bangsa ini.
kampus ITS, ITS Online – Akankah nantinya bangsa ini
akan teringat akan kisah-kisah SpongeBob-Patrick dan melupakan
kisah-kisah perjuangan Bung Tomo dalam mempertahankan Surabaya dari
serbuan penjajah Inggris. Akahkah kita ingat ketika suara takbir pun
menggema. Ratusan bahkan ribuan nyawa melayang. Kepulan asap dan
kucuran darah menjadi pemandangan biasa. Surabaya berkobar, sejarah
mencatatnya. Dan arek-arek Suroboyo pun berhadapan secara frontal
dengan tentara Inggris dan sekutunya. Tentara Inggris kehilangan dua
perwira tingginya, Mallaby dan Mansergh. Sebuah kisah heroik yang
mengesankan. Itulah pertempuran 10 November yang dijadikan hari besar
bagi bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan.
Hikayat Prang Sabi
Hikayat Prang Sabi adalah salah satu inspirator besar dalam menentukan
perjuangan rakyat Aceh. Memang sejak dulu bangsa Aceh sangat akrab
dengan syair-syair perjuangan Islam, sajak-sajak akan sebuah hakikat
keadilan. Hikayat ini selalu diperdengarkan ke setiap telinga anak-anak
aceh, laki-laki, perempuan, tua muda, besar kecil.
Kalau kita belajar dari sejarah, maka Acehlah yang paling sulit untuk
ditaklukkan oleh Belanda sejak tahun 1873. Beribu macam taktik perang
yang digunakan tetapi tidak dapat menguasai Nangro Aceh Daro Salam.
Sejarah mencatat bahwa perang kolonial di Aceh adalah yang paling alot,
paling lama, dan paling banyak memakan biaya perang dan korban jiwa
kompeni.
Atas perintah Teuku Cik Di Tiro tahun 1881 di gubahlah syair HPS oleh
Teuku Pante Kulu. Dan setiap akan berperang maka dibacakanlah syair itu
di sawyah-sawyah menasah, di bacakan di desa-desa untuk mengobarkan
semangat jihad ke masyarakat.
Dan hasilnya pada pertempuran di Kuto Lengat Biru 14 Juli 1904 wanita
dan anak-anak yang syahid tercatat 316 orang. Semangat jihad inilah
yang semakin tidak menggetarkan rakyat Aceh untuk terus berjuang.
Pihak Belanda pun kelimpungan untuk mengatasinya, dimulailah dikirim
tokoh Belanda Snouck Hurgronje yang disusupkan untuk mempelajari
kebudayaan Aceh menemukan jalan pikiran, sikap dan perilaku rakyat
Aceh. Tujuh bulan di Peukan, Snouck bergaul amat rapat dengan ulama.
Dan dengan diam-diam, hampir setiap malam, dia mencatat semua
percakapannya dengan kaum ulama, struktur masyarakat Aceh, dan
kedudukan ulama di mata rakyat. Lalu, dengan rapi catatannya itu dia
persembahkan pada Gubernur Jenderal di Batavia.
Tak cukup dengan catatan itu, Snouck kemudian membuat buku, De
Atjehers, yang memaparkan secara lengkap struktur masyarakat Aceh,
kebudayaan, sampai posisi ulama. Segera buku itu menjadi terkenal,
bahkan mendapat pujian dari para orientalis sebagai karya yang secara
lengkap mengupas kebudayaan Islam di Aceh. Bagi Belanda, karya itu
menjadi rujukan untuk menyusun taktik menghadapi perlawanan rakyat
Aceh. Dan terbukti, Aceh pun kemudian dapat dikalahkan
Salah satu bagian paling penting dari Hikayat Prang Sabi adalah
pendahuluan atau mukadimah. Bagian yang juga berbentuk syair ini
menunjukkan secara jelas tujuan ditulisnya Hikajat Prang Sabi, dalam
hubungannya dengan perang melawan Belanda. Setelah diawali dengan
puji-pujian kepada Allah pencipta semesta alam, syair-syair pada
mukadimah berlanjut pada seruan untuk perang Sabil. Juga disebutkan
satu pahala yang dapat diperoleh bagi mereka yang berjihad dalam perang
Sabil (jalan Allah-Red). Salah satu pahala yang akan diterima mereka
yang mati syahid dalam perang tersebut adalah akan bertemu dengan
dara-dara dari surga.
Kerinduan akan sebuah kisah perjuangan
Tidak Aneh jika beberapa negara saat ini berkembang berawal dari sebuah
kisah tokoh-tokoh bangsa itu atau tentang kisah kejayaan bangsa itu.
Negara Indonesia ini salah satunya dibesarkan dari sebuah kisah tentang
keinginan dan harapan bagi terciptanya nusantara yang bersatu oleh
Gajah Mada. Sebuah harapan Patih Gajah Mada untuk menyatukan berbagai
pulau, ras, agama, dan suku di nusantara dalam satu negara menjadi
inspirator para tokoh-tokoh pemuda bangsa Jong Java, Jong Sumatranen
Bond, Jong Batak dan Jong lainnya dalam Sumpah Pemuda tahun 1928.
Bangsa ini akan semakin rindu dengan Kisah-Kisah Perjuangan para
pahlawan (Pangeran Dipengoro, Imam Bonjol, Soekarno, KH Agus Salim)
atau cerita-cerita rakyat yang mengajarkan tentang identitas bangsa ini
(kebaikan, keadilan, persatuan) yang dulu sering diperdengarkan oleh
ibu-ibu kita ketika akan menidurkan anaknya.
Dan harus terus kita ingatkan pada anak cucu kita bahwa bangsa ini
masih mempunyai sebuah kisah tentang bangsa Indonesia yang
berketuhanan, berkeadilan, bermartabat, dan berketeladanan. Bangsa ini
masih mempunyai banyak kisah perjuangan membela keadilan dan kebenaran.
Bangsa ini masih memiliki banyak pahlawan yang berjuang dengan misi
yang suci. Bangsa ini tidak dibesarkan oleh penjahat, bangsa ini bukan
hanya dihiasi oleh kisah-kisah penjahat bangsa, cerita-cerita
ketidakadilan, kebobrokan moral para pejabatnya, permasalahan korupsi,
perpecahan bangsa, belalang-belalang tua (lirik lagu iwan fals) yang
menjual nilai keadilannya hanya untuk sebuah jabatan, kedudukan, kursi
dan harta.
Kisah-kisah tersebut dapat menjadi salah satu modal berharga dalam
membangun karakter bangsa ini. Pembangunan karakter bangsa ditentukan
oleh seberapa baiknya pembinaan keluarga. Pembinaan keluarga menjadi
momen awal bagi anak bangsa untuk menentukan jati dirinya. Tentu saja,
langkah kongkret melakukan transfer pola pikir dan cara hidup tidak
perlu dilakukan melalui gerakan besar. Sebuah gerakan di komunitas
kecil seperti keluarga, organisasi maupun lingkungan sekitar akan lebih
efektif. Dengan demikian, proses transfer pola pikir dan cara hidup pun
akan berjalan lebih lama. Namun hasilnya diyakini akan mampu merubah
kondisi masyarakat Indonesia dalam banyak segi.
ditulis oleh Nizar Ihromi Hidayat
Peserta PPSDMS regional IV Surabaya
Teknik Informatika 2002
Recent Comments